5 Sikap Orang Kristen Terhadap Terorisme Menurut Ajaran Alkitab

5 Sikap Orang Kristen Terhadap Terorisme Menurut Ajaran Alkitab

Akhir-akhir ini dunia sedang dilanda duka akibat ulah para pelaku teror. Sebut saja warga Selandia Baru yang baru saja menjadi korban terorisme. Tidak perlu jauh-jauh, Indonesiapun mengalami hal serupa. Mulai dari peristiwa bom Bali I, II hingga teror di Surabaya yang baru terjadi tahun lalu.Tindakan terorisme dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena motif politik ataupun fanatisme agama. Di Indonesia, perilaku teror sering dilandasi oleh justifikasi agama. Lalu bagaimana, agama Kristen sendiri memandang terorisme? Apa sikap orang Kristen terhadap terorisme? Apakah hukuman mati menurut iman Kristen diperbolehkan untuk para pelaku terorisme?

Konsep Terorisme

Terorisme sering menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Tengok saja aksi teror di Surabaya tahun lalu. Berapa banyak dari kita yang telah menyebarkan foto korban lewat aplikasi watsapp? Tindakan ini tentu menimbulkan rasa takut dan ngeri bagi yang melihatnya. Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, terorisme berarti penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik). Karena tujuannya untuk menciptakan ketakutan, korban dari terorisme bisa siapa saja, tua, muda, laki-laki, perempuan, dsb. Terorisme seringkali dikaitkan dengan radikalisme. Radikalisme sendiri dalam KBBI berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Penyebab terorisme sering dikaitkan oleh radikalisme adalah fanatisme beragama yang menjadi landasan teror. Golongan radikal ingin mengganti nilai yang sudah ada dengan nilai-nilai murni menurut mereka dengan pembenaran agama serta kekerasan.

Sikap Orang Kristen Terhadap Terorisme

Di tengah ancaman teror yang semakin berlarut-larut ini, bagaimana sikap orang Kristen terhadap terorisme? Tentu hal terpenting yang harus dilakukan adalah kembali ke Alkitab. Selain mengajarkan cara hidup bermasyarakat seperti dalam ayat Alkitab tentang multikulturalisme, ayat Alkitab tentang orang licik, ayat Alkitab tentang pengedar narkoba, Alkitab juga banyak mengajarkan tentang cinta kasih, yang jelas bertentangan dengan perilaku teror, seperti:

1 Yohanes 4:11 : Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
Roma 12:10 : Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
Yohanes 13:34 : Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
Ibrani 10:24 : Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
1 Petrus 1:22 : Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas , hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.
Perang melawan terorisme juga sudah menjadi tantangan gereja masa kini. Jaleswari Pramodhawardhani dalam HUT ke-68 PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) menuturkan bahwa untuk menangani terorisme perlu pendekatan hard power dan soft power. Hard power berarti penegakan hukum yang tegas kepada para pelaku teror, sedangkan soft power artinya pencegahan berupa pembentengan masyarakat dari ideologi radikal. Bagi umat Kristen, pembentengan ideologi ini dapat dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai Kristiani dan toleransi. Tentu jangan sampai yang kita lakukan malah menimbulkan fanatisme buta. Mengutip dari buku Charles Kimbal, ada lima hal yang menyebabkan agama dapat menjadi sumber agama, yaitu klaim kebenaran mutlak kepatuhan dan ketertundukan buta, membangun zaman ideal, tujuan menghalalkan segala cara, dan mendeklarasikan perang suci.

Demikianlah penjelasan mengenai sikap orang Kristen terhadap terorisme. Terorisme sebenarnya muncul karena ideologi intoleran yang menjangkiti para pelakunya. Untuk menghindarinya, setiap manusia tentu harus berfikir bahwa kita harus rukun dengan manusia lainnya, termasuk dalam agama Kristen. Mengutip dari buku Charles Kimbal, ada lima hal yang menyebabkan agama dapat menjadi sumber agama, yaitu klaim kebenaran mutlak kepatuhan dan ketertundukan buta, membangun zaman ideal, tujuan menghalalkan segala cara, dan mendeklarasikan perang suci. Demikianlah penjelasan mengenai sikap orang Kristen terhadap terorisme. Terorisme sebenarnya muncul karena ideologi intoleran yang menjangkiti para pelakunya. Untuk menghindarinya, setiap manusia tentu harus berfikir bahwa kita harus rukun dengan manusia lainnya, termasuk dalam agama Kristen.

Bagi umat Kristen, pembentengan ideologi ini dapat dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai Kristiani dan toleransi. Tentu jangan sampai yang kita lakukan malah menimbulkan fanatisme buta. Mengutip dari buku Charles Kimbal, ada lima hal yang menyebabkan agama dapat menjadi sumber agama, yaitu klaim kebenaran mutlak kepatuhan dan ketertundukan buta, membangun zaman ideal, tujuan menghalalkan segala cara, dan mendeklarasikan perang suci. Demikianlah penjelasan mengenai sikap orang Kristen terhadap terorisme. Terorisme sebenarnya muncul karena ideologi intoleran yang menjangkiti para pelakunya. Untuk menghindarinya, setiap manusia tentu harus berfikir bahwa kita harus rukun dengan manusia lainnya, termasuk dalam agama Kristen.

Post a Comment

Previous Post Next Post