4 Ayat Alkitab Tentang Melunasi Hutang kepada Kerabat

4 Ayat Alkitab Tentang Melunasi Hutang kepada Kerabat

Uang adalah benda yang saat iniselalu kita butuhkan. Dengan uang, kita bisa mendapatkan berbagai benda lainnyauntuk memenuhi kebutuhan atau kesenangan kita. Kita pun juga berusaha untukmelakukan penggunaanuang menurut Alkitab. Namun, seringkali uang tidak menjadi hal yang mudahkita miliki. Kita mungkin sering kesulitan untuk mendapatkan uang dan kemudianmerasa kesulitan bahkan untuk memenuhi kebutuhan kita.

Kita berusaha mencari alternatifuntuk memenuhi kebutuhan kita. Salah satu alternatif yang banyak dipilih orangadalah berhutang. Ada orang yang melakukan pinjaman kepada bank, ada juga yangmelakukan pinjaman kepada keluarga atau kerabat dekat. Jika kita melakukanpinjaman pada bank, tentu akan lebih mudah untuk bertanggung jawab karenaselalu ada tagihan. Namun, jika kita meminjam dari kerabat, seringkali kerabatpun merasa segan untuk menagih. Belum lagi kerabat pun berusaha untuk menerapkanhukum riba dalamKristen. Bagaimanapun, hutang hanya merupakan sebuah pinjaman. Kita tidakbisa melupakannya begitu saja. Berikut beberapa ayat Alkitab tentang melunasihutang.

Mazmur 37:21
Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah.

Allah sangattidak senang terhadap orang fasik. Berkali-kali Alkitab menjelaskan berbagaikriteria yang berbeda-beda tentang orang fasik, termasuk dalam ayat Alkitab tentangmelunasi hutang ini. Pemazmur mengingatkan bahwa salah satu ciri-ciri orangfasik adalah meminjam dan tidak membayar kembali. Orang fasik adalah orang yangtidak melunasi hutang, terutama jika dilakukan dengan sengaja. Tindakanmelunasi hutang merupakan tindakan yang benar, dianggap penuh kasih dankemurahan hati sesuai hukumkasih dalam Alkitab. Melunasi hutang berarti kita menghargai apa yang oranglain lakukan untuk kita. Melunasi hutang juga berarti kita berusaha untukmemberikan hak orang lain. Terlebih lagi, melunasi hutang merupakan tindakanyang membuktikan bahwa kita adalah pribadi yang bertanggung jawab.

Pengkhotbah 5:4
Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.

Kita biasamengenal nazar sebagai sebuah janji. Banyak orang melakukan nazar sebagai salahsatu caradoa dikabulkan menurut Kristen. Kita juga tentu sering mendengar pernyataanbahwa janji adalah hutang. Nyatanya, hutang tidak selalu berbicara tentanguang. Allah pun ingin mengingatkan kita bahwa kita bisa berhutang dalamberbagai hal, termasuk dalam janji. Allah mengingatkan kita untuk selalumenepati janji atau melunasi hutang. Ini membuat Pengkhotbah 5:4 menjadi salahsatu ayat Alkitab tentang melunasi hutang.

Allah tidak pernah melarang kita untuk bernazar dan berhutang. Namun, Allah dengan tegas mengingatkan kita untuk menepati janji kita dan melunasi hutang kita. Jika kita tidak yakin kita dapat menepatinya, sebaiknya sejak awal kita tidak perlu bernazar. Jika kita tidak yakin kita dapat melunasi hutang kita, sebaiknya sejak awal kita tidak perlu meminjam dan berhutang. Dengan ayat ini, Allah mengingatkan kita untuk terus bijaksana sebelum melakukan sesuatu, termasuk bernazar dan berhutang.

Ulangan 24:10-11
Apabila engkau meminjamkan sesuatu kepada sesamamu, janganlah engkau masuk ke rumahnya untuk mengambil gadai dari padanya. Haruslah engkau tinggal berdiri di luar, dan orang yang kauberi pinjaman itu haruslah membawa gadai itu ke luar kepadamu.

Alkitab tentu tidak hanya menjelaskan tentang pelunasan hutang. Di dalam ayat Alkitab tentang melunasi hutang ini, Allah juga memberikan peringatan kepada orang-orang yang memberikan pinjaman. Orang yang memberikan pinjaman diminta untuk memberikan dengan sepenuh hati, penuh kemurahan. Orang tersebut tidak seharusnya mengambil gadaian secara paksa dan merasa memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan orang yang melakukan pinjaman. Orang yang meminjamkan harus dipenuhi dengan kesabaran dan kebijaksanaan.

Namun, Allahtidak berhenti di situ. Perintah Allah tersebut tidak seharusnya kita pakaiuntuk menjadi alasan tidak melunasi hutang. Allah tetap menuntut kita untuk melakukankewajiban kita dan melunasi hutang. Jika kita memang tidak sanggup melunasihutang kita, kita harus memberikan jaminan berupa gadai. Kita tidak perlumenunggu orang yang kita pinjam menuntut. Kita sendiri yang harus memberikannyakepada orang tersebut dengan segala kerelaan. Bagaimanapun, gadai tersebutmerupakan hak jaminan bagi mereka. Jika kita melakukannya tanpa tuntutan, halitu berarti kita sudah menjadi orang yang bertanggung jawab. Tentu Allah senangdengan anak-Nya yang berlaku sesuai ayat Alkitabtentang tanggung jawab.

Roma13:7
Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Tindakan berhutang tidak hanya dijelaskan pada Kitab Perjanjian Lama. Nyatanya, masih banyak orang yang berhutang bahkan pada zaman Perjanjian Baru. Inilah mengapa akhirnya Paulus dalam ayat Alkitab tentang melunasi hutang ini kembali bersuara. Paulus mengingatkan jemaat di Roma dan kita semua saat ini untuk membayar apa yang memang perlu kita bayar. Hutang tentu merupakan tanggung jawab kita. Kita tidak boleh menghindarinya. Orang yang sudah meminjamkan kepada kita berhak menerima uangnya dikembalikan. Oleh karena itu, kita perlu dan harus untuk membayarnya kembali. Kita tidak boleh melupakan ayat Alkitab tentang jangan mengambil hak orang lain.

Itulah beberapa ayat Alkitab tentangmelunasi hutang. Allah memang tidak pernah melarang kita untuk meminjam danberhutang. Namun, sebagai anak Allah, kita harus memiliki ciri orang bijakmenurut Alkitab terutama dalam melakukan pinjaman. Kita harus dapat melihatapakah kita bisa bertanggung jawab untuk mengembalikan pinjaman tersebut danmelunasi hutang kita.

Bagaimanapun, berhutang seharusnyamenjadi pilihan terakhir bagi kita. Pertama-tama kita seharusnya percaya bahwaAllah akan memenuhi segala kebutuhan kita. Oleh karena itu, kita perlu untukmempercayakan segala kebutuhan kita kepada Allah karena hanya Ia yang sanggupuntuk memenuhinya. Kita juga harus terlebih dahulu bekerja lebih keras lagidari yang seharusnya. Kita tidak bisa bergantung dengan apa yang orang lainmiliki. Kita tidak boleh terus bergantung dengan kebaikan dan kemurahan sesamakita. Kiranya segala kemuliaan bagi nama Allah. Tuhan memberkati.

Post a Comment

Previous Post Next Post